28 Jun 2012

Foto Asna, 27 Juni 2012

Posted by PapjoBali 0 comments

23 Jun 2012

Foto Asna, 23 Juni 2012

Posted by PapjoBali 0 comments

20 Jun 2012

Manfaat Bermain Sepeda Bagi Balita

Posted by PapjoBali 0 comments
BERMAIN sepeda merupakan salah satu kegemaran si balita. Tidak jarang kita sebagai orang tua atau si pengasuh, mengajak si balita untuk bersepeda di pagi atau sore hari sambil memberikan makanan. Dengan mengajak si balita bersepeda, tanpa kita sadari kita sudah melatih kemampuan motorik si kecil untuk berkembang. Dan si kecil pun sangat menyukainya, tak jarang si kecil kalau melihat sepeda langsung suka atau jatuh hati. Jenis sepeda untuk si balita ada yang berroda tiga dan ada juga yang berroda empat. Tapi sebelum kita mengajak si kecil bersepeda terlebih dahulu kita harus memperhatikan hal-hal yang dapat membahayakan si kecil. 

Berikut faktor-faktor yang harus kita perhatikan demi keamanan si kecil saat bersepeda: Faktor keamanan atau safety : Pastikan si kecil bermain sepeda di tempat yang aman. Kalau rumah berada di pinggir jalan, maka bawalah si kecil bermain sepeda di halaman atau di dalam rumah saja. 

 Dampingi si kecil saat bermain sepeda : Jangan biarkan si kecil bermain sepeda sendiri, terus awasi dan jaga jarak anda dengan si kecil, sehingga si kecil akan merasa aman bermain. Ciptakan suasana menyenangkan : Agar si kecil merasa senang ajarkan si kecil bernyanyi sambil bermain atau sekali-kali bunyikan bell yang ada di sepeda tersebut. Waktu bermain : pastikan membawa si kecil bermain di pagi atau sore hari saat sinar matahari sudah mulai redup. 

Manfaat Bersepeda Bagi Si Balita 
Dengan bermain sepeda bukan hanya memberikan rasa senang bagi si kecil, tetapi juga mengandung beberapa manfaat. Berikut manfaat yang bisa kita ambil: Belajar berani dan percaya diri : si kecil biasanya kalau baru melihat sepeda awalnya hanya memegang dan mendorong-dorang sepeda tersebut, lalu kita coba mendudukan si kecil ke atas tempat duduknya sambil kita dorong. Selanjutnya si kecil akan berusaha untuk duduk sendiri di atas sepeda sambil mendorongnya menggunakan kaki, selanjutnya dia akan mencoba meletakkan kakinya di pedal sepeda dan mencoba mengerakkannya. Sampai akhirnya si kecil bisa atau mahir menggunakannya sendiri. Proses ini pastinya membutuhkan keberanian dan kepercayaan bagi si kecil, sampai akhirnya dia bisa menggunakan sepeda roda dua di usia selanjutnya. Mengasah kemampuan motorik kasar : Dengan bersepeda bisa membantu atau memberikan kesempatan pada si kecil untuk mengembangan keterampilan motorik kasar bagi si kecil. Saat bermain sepeda kemampuan otot kaki dan otot tangan akan terasah ketika mengayuh sekaligus mengendalikan kemudi sepeda. Koordinasi anggota tubuh : saat bersepeda mata, tangan, kaki, dan keseimbangan beraktivitas sekaligus, sehingga telah tercipta rangkaian koordinasi antara aktivitas tersebut. Membuka ruang eksplorasi dan interaksi : dengan bersepeda membuat anak bereksplorasi ke wilayah yang lebih luas. Hal ini bisa mengasah kemampuan beradaptasi si kecil dengan lingkungan baru sebagai modal bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan mana pun. Belajar mengatasi masalah : saat bersepeda si kecil bisa mengatasi masalahnya sendiri, misalnya saja saat sepeda akan bertabrakan dengan sepeda temannya si anak akan berusaha untuk membelokkan sepedannya sehingga tabrakan bisa di hindarinya. 

Berikut Tip Memilih Sepeda Untuk Si Balita 
Pilihlah sepeda yang pedalnya mampu di jangkau oleh kaki si kecil. Jika pedalnya tidak bisa di jangkau oleh si kecil berarti sepeda tersebut belum cocok untuknya. Untuk sepeda roda empat, pilihlah ukurannya yang paling kecil. 

Bila nanti anak sudah besar, sadelnya akan bisa dinaikkan atau ditinggikan sehingga bisa disesuaikan dengan tinggi tubuhnya.

17 Jun 2012

Benarkah Imunisasi Justru Membuat Anak Sakit?

Posted by PapjoBali 0 comments
Imunisasi bukanlah hal baru dalam dunia kesehatan di Indonesia, namun tetap saja sampai kini banyak orangtua yang masih ragu-ragu dalam memutuskan apakah anaknya akan diimunisasi atau tidak.

Kebingungan tersebut sebenarnya cukup beralasan, banyak selentingan dan mitos yang kontroversial beredar, mulai dari alergi, autis, hingga kejang-kejang akibat diimunisasi. Namun, jika para orangtua mengetahui informasi penting sebelum imunisasi, sebenarnya risiko-risiko tersebut bisa dihindari. Apa saja yang perlu diketahui orangtua?

Banyaknya penyakit baru yang menular dan mematikan serta penyakit infeksi masih menjadi masalah di Indonesia. Selain gaya hidup sehat dan menjaga kebersihan, imunisasi merupakan cara untuk melindungi anak-anak dari bahaya penyakit menular.

Hal tersebut diungkapkan oleh Dr.Soedjatmiko, SpA(K), MSi, Ketua Divisi Tumbuh Kembang Pediatrik Sosial, FKUI, RSCM. “Vaksinasi akan meningkatkan kekebalan tubuh dan mencegah tertularnya penyakit tertentu,”katanya.

Di Indonesia, ada lima jenis imunisasi yang wajib diberikan pada anak-anak, yakni BCG, polio, campak, DTP, dan hepatitis B. Menurut badan kesehatan dunia (WHO), kelima jenis vaksin tersebut diwajibkan karena dampak dari penyakit tersebut bisa menimbulkan kematian dan kecacatan. Selain yang diwajibkan, ada pula jenis vaksin yang dianjurkan, misalnya Hib, Pneumokokus (PCV), Influenza, MMR, Tifoid, Hepatitis A, dan Varisela.

Harus Fit

Sebelum anak diimunisasi, ada beberapa kondisi yang membuat imunisasi sebaiknya ditunda, yakni saat anak sedang panas tinggi, sedang minum prednison dosis tinggi, sedang mendapat obat steroid, dalam jangka waktu 3 bulan terakhir baru mendapat transfusi darah atau suntikan imunoglobulin.

Intinya si kecil harus dalam kondisi sehat sebelum diimunisasi agar antibodinya bekerja. Imunisasi adalah pemberian virus, bakteri, atau bagian dari bakteri ke dalam tubuh untuk membentuk antibodi (kekebalan). Jika anak sakit dimasuki kuman atau virus lain dalam vaksin, maka kerja tubuh menjadi berat dan kekebalannya tidak tinggi.

“Kalau hanya batuk pilek sedikit atau diare sedikit tidak apa-apa diberi imunisasi, tapi jika bayi sangat rewel sebaiknya ditunda satu-dua minggu,”papar Seodjatmiko. Soedjatmiko menyarankan agar orangtua memberitahukan pada dokter atau petugas imunisasi jika vaksin terdahulu memiliki efek samping, misalnya bengkak, panas tinggi atau kejang.

Sesudah imunisasi

Menurut Seodjatmiko, setiap vaksin memiliki reaksi berbeda-beda, tergantung pada penyimpanan vaksin dan sensitivitas tiap anak. Berikut reaksi yang mungkin timbul setelah anak diimunisasi dan bagaimana solusinya.

BCG

Setelah 4-6 minggu di tempat bekas suntikan akan timbul bisul kecil yang akan pecah, bentuknya seperti koreng. Reaksi ini merupakan normal. Namun jika koreng membesar dan timbul kelenjar pada ketiak atau lipatan paha, sebaiknya anak segera dibawa kembali ke dokter. Untuk mengatasi pembengkakan, kompres bekas suntikan dengan cairan antiseptik.

DPT

Reaksi lokal yang mungkin timbul adalah rasa nyeri, merah dan bengkak selama satu-dua hari di bekas suntikan. Untuk mengatasinya beri kompres hangat. Sedangkan reaksi umumnya antara lain demam dan agak rewel. Berikan si kecil obat penurun panas dan banyak minum ASI.

Kini sudah ada vaksin DPT yang tidak menimbulkan reaksi apapun, baik lokal maupun umum, yakni vaksin DtaP (diphtheria, tetanus, acellullar pertussis), sayangnya hariga vaksin ini jauh lebih mahal dari vaksin DPT.

Campak

5-12 hari setelah anak mendapat imunisasi campak, biasanya anak akan demam dan timbul bintik merah halus di kulit. Para ibu tidak perlu mengkhawatirkan reaksi ini karena ini sangat normal dan akan hilang dengan sendirinya.

MMR (Mumps, Morbilli, Rubella)

Reaksi dari vaksin ini biasanya baru muncul tiga minggu kemudian, berupa bengkak di kelenjar belakang telinga. Untuk mengatasinya, berikan anak obat penghilang nyeri.

Orangtua yang membawa anaknya untuk diimunisasi dianjurkan untuk tidak langsung pulang, melainkan menunggu selama 15 menit setelah anak diimunisasi, sehingga jika timbul suatu reaksi bisa langsung ditangani.

Bagaimana jika orangtua lupa pada jadwal vaksinasi anak? Menurut Soedjatmiko hal itu tidak menjadi masalah dan tidak perlu mengulang vaksin dari awal. “Tidak ada itu istilah hangus. Sel-sel memori dalam tubuh mampu mengingat dan akan merangsang kekebalan bila diberikan imunisasi berikutnya,” katanya. Untuk mengejar ketinggalan, dokter biasanya akan memberi vaksin kombinasi.

Meskipun seorang anak sudah mendapatkan imunisasi secara lengkap, bukan berarti ia tidak akan tertular penyakit, namun penyakitnya lebih ringan dan tidak terlalu berbahaya. “Dampak dari penyakitnya lebih ringan, kemungkinan meninggal, cacat dan lumpuh juga bisa dihindari,”kata dokter yang juga menjadi Satgas Imunisasi PP IDAI ini.

Pilihan memang ada di tangan orangtua, tetapi bagaimanapun tugas orangtua adalah untuk melindungi anaknya, dan imunisasi adalah cara yang penting untuk mencegah si kecil dari serangan penyakit. Bukankah mencegah lebih baik dari mengobati?

Dari berbagai sumber

Cek ke- 8, 16 Juni 2012

Posted by PapjoBali 0 comments
Asna mendapat imunisasi:

Campak.

Imunisasi campak memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit campak (tampek). Imunisasi campak diberikan sebanyak 2 kali. Pertama, . pada saat anak berumur 9 bulan atau lebih, Campak 2 diberikan pada umur 5-7 tahun. Pada kejadian luar biasa dapat diberikan pada umur 6 bulan dan diulangi 6 bulan kemudian. Vaksin disuntikkan secara langsung di bawah kulit (subkutan).

Campak 1 diperlukan untuk menimbulkan respon kekebalan primer, sedangkan Campak 2 diperlukan untuk meningkatkan kekuatan antibodi sampai pada tingkat yang tertingi. Efek samping yang mungkin terjadi berupa demam, ruam kulit, diare.

Berat Badan 8 kg.

Biaya: Rp. 150. 000, -
 

Asna Susanto Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review